Sabtu, 26 September 2015

Ketika Cinta Sejati Tak Kunjung Datang

Bisikan kata-kata cinta nan indah mengalun di telinga, membekas di ingatan hingga menahun seolah ada harapan yang besar di dalam artinya. Terduduk sendiri, menatap kesunyian yang enggan beranjak setelah setia menemani selama beberapa tahun terakhir. Ramai tapi hati ini sepi seolah mati, tersenyum walau tangisan mengalir deras. Menutupi keadaan sebenarnya dengan kepalsuan, kepura-puraan. Terkadang aku lelah. Lelah menjalani semua kisah hidup yang tak berjalan sesuai keinginanku. Takdir tak pernah berpihak kepadaku, entah sampai kapan aku mampu bertahan dalam keadaan ini.
Matahari kian meninggi mencapai puncak kepala, namun ku masih saja duduk termenung. Menatap hampa sebuah jendela putih di sampingku, pikiranku pun berkelana. ‘Devin’ sebuah nama yang pernah menemaniku menjalani kehidupan, menghiburku dengan canda tawa, menemani keseharianku. Namun semua itu hanyalah kenangan. Ya, kenangan yang pantas untuk dikenang. Aku tak tahu apa kesalahanku sehingga tak dapat menikmati kebahagiaan lebih lama lagi. Saat ku melayang dalam kebahagiaan, saat itu pula aku dijatuhkan ke dalam jurang yang paling dalam dan berbatu. Kurasakan hatiku tergores luka yang sangat perih, memberi bekas sebuah kenangan buruk yang membuatku mengalami trauma berkepanjangan.
Aku bukanlah seorang wanita yang kuat, mandiri dan selalu bahagia seperti yang selama ini orang pikirkan. Jangan pernah menyimpulkan sesuatu dari yang kita lihat, karena belum tentu itu adalah sebuah kebenaran. Aku hanya seorang wanita biasa yang rapuh, lemah, membutuhkan bantuan orang lain, aku juga berusaha untuk bahagia dengan caraku sendiri. Banyak sekali imajinasi tentang rencana-rencana mendatang untuk kehidupanku. Tapi diriku lupa akan suatu hal bahwa manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan semuanya.
Rinai hujan membasahi bumi, disertai bunyi guntur yang bersahut-sahutan, membangunkanku dari mimpi indahku tentang dirinya yang belum dapat kulupakan. Sejenak ku merenggangkan badan, mengumpulkan nyawa sepenuhnya, lalu menatap ke arah jam dinding antik berwarna coklat yang menghiasi dinding putih di sebelah kanan. ‘Pukul sembilan lewat dua puluh menit’, tatapanku pun mengarah keluar jendela memastikan. Langit mendung biru kehitaman dengan rinai hujan menyambut indera penglihatanku.
“Sudah malam ternyata, tak terasa waktu berjalan dengan cepat.” Kataku dalam hati.
Ku ambil sebuah payung bermotif bunga berwarna putih kekuningan yang sudah sedikit berkarat akibat hujan dengan kadar keasaman tinggi yang sering turun akhir-akhir ini. Dengan langkah pasti, ku berjalan keluar rumah kontrakan yang telah kutempati selama tiga tahun belakangan, rumah yang penuh kenangan bersamanya. Kuberjalan dengan payung di tangan kananku menghampiri sebuah supermarket kecil tapi serba ada dan buka 24 jam di dekat rumah kontrakanku. Nyala lampu yang masih terang benderang meyakinkanku bahwa masih ada kehidupan di dalam sana. Sedikit berlari karena rasa dingin mulai menyergap raga, membuat gigiku bergemeletuk pelan tanda diriku menggigil kedinginan.
Sesampainya ku di dalam supermarket ini, kulirik sebuah jam yang bertengger manis di kasir. ‘Pukul sembilan lewat dua puluh lima menit’, tak kusia-siakan waktu yang terus berjalan. Menyusuri rak-rak kebutuhan pokok dengan perlahan, mencari kebutuhan yang kuperlukan. Setelah ku dapatkan apa yang diperlukan, ku bergegas menuju kasir membayar semua belanjaanku.  Seorang wanita muda berusia kepala dua menyambutku dengan ramah, ia mengeluarkan belanjaanku dari keranjang belanja dan mulai menghitungnya. Ku rogoh saku celanaku, ku keluarkan dua lembar uang seratus ribuan yang masih rapi tak bercela. Ketika wanita kasir itu menyebutkan nominal harga belanjaanku, kuberikan uang yang telah kupersiapkan sebelumnya. Ia memberikanku tiga lembar uang dua puluh ribuan sebagai kembaliannya, tak lupa diucapkannya terima kasih dan sebuah harapan agar ku kembali kesana.
Aku pun membawa belanjaan dan payungku ketika sebelumnya sudah ku pastikan bahwa hujan telah usai karena telingaku tak lagi mendengar seruan guntur maupun rintik hujan. Bau tanah khas hujan menyeruak penciumanku, banyak genangan air yang harus kuhindari sebelum ku mencapai pintu rumah kontrakanku. Setelah tiba di depan rumah kontrakan langsung kubuka pintu, lalu kuletakkan belanjaanku di tempat yang seharusnya agar mudah untukku menemukannya. Kurebahkan tubuhku di sebuah sofa di ruang tamu. Tak terasa kantuk pun mulai menyergapku, membawaku menemuinya di dalam mimpiku. Kenangan – kenangan manis saat aku dan dia masih bersama kembali merasuk ke dalam pikiranku. Masih ada kata kita pada saat itu, berbeda dengan keadaan sekarang ini. Aku tak tahu apakah itu adalah mimpi buruk atau memang sebuah pertanda. Jujur, aku tak mau berharap banyak. Aku yakin aku tak akan mampu bila harus mengalami sakitnya ditinggalkan, sakitnya dikhianati, sakitnya dibohongi oleh semua kepura-puraan yang tampak nyata untukku. Hati ini punya batas kemampuan yang tidak banyak, walau cukup untuk menampung luka yang telah dia timbulkan untukku. Mimpiku pada malam itu pun berakhir dengan indah tetapi tak seindah kenyataan yang ada dihadapanku. Mungkin Tuhan sedang memberikanku ujian agar kelak diriku lebih kuat dalam menghadapi rintangan hidup yang semakin berat.
Aku pun terhempas ke dalam pusaran hitam yang gelap. Terombang – ambing di dalam pusaran itu. Aku berteriak sekencang – kencangnya, namun tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Kucoba untuk lebih memendam rasa takut ini dan berhasil. Aku terbangun dari tidur lelapku. Mengerjap-ngerjapkan mataku, menyesuaikan pandanganku dengan sinar mentari pagi yang menelusup masuk melalui celah-celah jendela kamar. Perlahan kusibakkan tirai merah muda yang menutupi jendela, membiarkan sinar mentari masuk tanpa perlu dihalang-halangi. Hangat. Itulah yang kurasakan. Aku berharap hari ini dapat kujalani dengan perasaan yang hangat seperti sinar mentari itu, yang mampu menghangatkan dunia, memberi sebuah kenyamanan yang tak dapat dibeli oleh uang. Sudah terlalu lelah untuk disakiti lagi. Tak mampu aku berdiri, menopang tubuhku sendiri kalau hati rapuh ini kembali disakiti, karena luka yang ditimbulkannya masih belum sirna. Luka yang diberikannya terlalu sempurna sehingga susah untuk kuhilangkan. Sama seperti sebuah hiasan yang terbuat dari kaca apabila dibanting ke lantai akan pecah dan tidak dapat dikembalikan lagi seperti semula, itulah yang terjadi pada hatiku ini.
Hari baru kujalani dengan semangat baru. Mencoba memasang wajah baik-baik saja untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya. Terlalu lelah, itu yang kurasakan. Namun, aku tak bisa menyerah begitu saja. Walau ia telah menyakitiku, aku harus bisa bangkit dari keterpurukkan ini. Tak bisa aku hanya berpangku tangan dan berharap luka di hatiku dapat sirna begitu saja. Aku harus berusaha untuk menghapus namanya dari hatiku. Sungguh amat disayangkan. Berat sekali rasanya menghapus nama seseorang yang telah bertahun-tahun mendiami hatimu. Aku tipikal perempuan yang setia, memang tak mudah bagiku untuk jatuh cinta dan sekalinya aku jatuh cinta pasti amat sulit untuk berpindah ke lain hati. Boleh orang lain mencemoohku karena ku terlalu nyaman di dalam  kesakitan ini. Karena memang aku sudah jatuh terlalu dalam dan tak dapat ku bangkit dengan sendirinya, aku membutuhkan teman untukku berpindah ke lain hati, teman berjuang bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar