PROLOG
Musik adalah bagian terpenting dari hidupku, ku tak tahu apa yang kan terjadi jika ku tak mampu memainkannya. Mungkin… hidup kan terasa hambar bak sayur tanpa garam atau mungkin… ragaku hidup tetapi jiwa dan rohku tertinggal di suatu tempat dimana musik berada.
Musik bukan diciptakan oleh orang yang berbakat saja, tetapi juga oleh orang yang dapat mendalami arti musik itu sendiri. Musik tidak dapat dilihat, dan tidak dapat disentuh tetapi musik mampu menggetarkan jiwa orang yang mendengarkannya.
Musik itu sederhana, tapi mampu melahirkan hal – hal yang luar biasa. Musik itu rumit, tapi mampu dimengerti oleh kalangan yang berfikiran sederhana.
Musik adalah sahabat dan curahan hati yang terbaik yang mampu menenangkan dan menghibur semua penikmatnya. Musik adalah hidupku, sahabatku dan curahan hatiku.
Bab I
Author POV
Seorang perempuan berjalan seorang diri dengan sebuah tas biola di tangan kanannya. Bila dilihat dari jauh perempuan itu tampak sempurna tiada cacat sedikitpun ditambah dengan kecantikan oriental khas perempuan Asia Timur yang elekat diwajahnya. Tetapi bila kita mengenalnya lebih jauh kita akan mengetahui ia adalah seorang tunawicara dan tunarungu. Sebuah senyum manis terukir indah di wajahnya menambah kesan anggun perempuan itu.
Vania POV
“Senang sekali rasanya mendapat kesempatan bermain biola lagi walau dengan kondisi tubuhku yang sekarang.” Kataku dalam hati. Pikiranku pun berkelana ke masa- masa silam dimana semua kesempurnaan masihlah milikku, sebelum kecelakaan itu merenggut indera pendengaran dan suara emasku.
FLASHBACK
“Van… Vania cepat bangun, kamu mau terlambat datang di hari pertama kita masuk SMA .” teriak Valencia, sahabat baik dan juga tetangga sebelah rumahku.
“Engghh, tunggu sebentar.” Kataku.
“Cepatlah ! Sekarang sudah jam setengah tujuh.” Balasnya.
“Iya.. iya.. aku sudah bangun kok.”
Aku pun berjalan menuruni satu per satu anak tangga di rumahku.
Sesampainya aku di bawah, aku langsung mengambil sarapan roti tawar dan susu coklat hangat yang telah disiapkan untukku. Aku pun bergegas memakai sepatuku, mengambil tasku dan berpamitan kepada kedua orang tuaku. Aku pun berangkat ke sekolah dengan menumpang mobil Valen yang juga satu sekolah denganku. Kutawari dia setangkup roti tawar yang sempat kuambilkan untuknya tadi. Ia pun mengambilnya sambil tetap memfokuskan diri menyetir mobil Honda Jazz keluaran terbaru yang diberikan orang tuanya untuk kado ulang tahunnya yang keenam belas.
Kami tiba di sekolah dua puluh lima menit sebelum bel masuk dibunyikan. Kami pun bersiap – siap berpencar mencari aula tempat OSPEK anak-anak baru diadakan. Tak lupa kami menyalakan bluetooth headset yang sudah terpasang rapi di telinga kanan kami masing – masing. Hal itu kami lakukan agar dapat saling memberitahu keadaan satu sama lain dan memberi tahu tempat OSPEK diadakan jika sudah menemukannya.
“Siap ? Jangan lupa beritahu aku bila sudah menemukan aulanya. Oke?” kataku dengan bersemangat.
“ Kau juga bila sudah menemukannya cepatlah beritahu aku.” katanya.
“Sip deh bos.” Kataku dengan mengacungkan kedua ibu jariku.
“Bye, sampai nanti.” katanya sambil berlari menjauhiku, kujawab dengan anggukan singkat dan bergegas mencari aula OSPEK.
Sekolah baruku sangatlah luas dengan 5 buah gedung yang terdiri dari sebuah gedung utama yang berisi 12 ruang kelas, sebuah gedung administrasi, gedung olahraga indoor dan outdoor, gedung musik, dan juga gedung khusus guru dan staff yang membantu berjalannya sekolah ini. Aku baru mengetahuinya setelah melihat denah sekolah yang berada di mading.
Akhirnya aku menemukan aula di mana kegiatan OSPEK diadakan, tepat di dalam gedung olahraga di lantai kedua lebih tepatnya. Aku juga sudah memberi tahu Valen tentang hal itu. Sekarang aku sedang menunggunya sembari mendengarkan musik dengan volume yang cukup keras agar terhindar dari suasana bising di sekitar tempatku berada. Entah mengapa, setiap kali ku mendengarkan musik ku merasakan ketenangan dan kenyamanan. Aku yakin aku tidak bisa hidup tanpa musik di sisiku.
Tiba- tiba Valen berlari ke arahku dengan nafas yang terengah – engah seperti orang yang usai lari marathon. Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali fokus mendengarkan musik yang sedang kudengarkan. Instrumen lagu Beethoven yang berjudul ‘Appassionata’ pun mulai memenuhi indera pendengaranku. Aku pun mulai terhanyut dan terbawa suasana yang berhasil diciptakan lagu ini. Aku meresapi setiap nada yang tertangkap oleh telingaku sambil berfikir betapa hebatnya pencipta instrumen ini karena hanya dari sebuah instrumen ia mampu menggetarkan semua jiwa yang mendengarkannya. Penuh makna… Kesedihan… Ketertolakan… Keputusasaan… Pengkhianatan… Penghinaan… Kupejamkan mataku ketika menikmati melodi indah ini, tak terasa air mataku pun mengalir.
Ku buka mataku saat kurasakan ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku, aku pun menoleh untuk melihat siapa orang yang berani mengganggu saat ketenanganku. “Valencia Armadi !!” teriakku dengan suara keras setelah mengetahui sahabatku lah yang melakukannya. Aku pun mematikan lagu yang sedang kuputar dan meletakkan ipod ku ke dalam tas selempang berwarna merah muda yang hari ini kugunakan. Kulihat Valen telah berpindah ke sampingku sambil terkekeh kecil melihat kelakuanku yang kekanak-kanakan.
“Sudah selesai berpacaran dengan musikmu itu?” tanyanya.
“ Ada hal penting apa Len?? Sampai kamu mengganggu tenangku mendengarkan musik.” tanyaku.
“ Kita sudah mau mulai OSPEK Van, jadi bergegaslah sebelum kita berdua kena hukum senior-senior kejam tak berperikemanusiaan itu.”katanya dengan berbisik di telingaku.
“Astaga, kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi?” kataku dengan panik.
“Salahmu sendiri.”katanya singkat.
“Ya sudah, ayo kita bergegas!” “Ayo!”
Kami pun berjalan memasuki aula OSPEK diadakan, tiba-tiba suasana berubah hening dan kurasakan semua mata tertuju pada kami berdua. Aku pun mencari tempat duduk yang masih kosong di bagian belakang.
-Bersambung-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar