Sabtu, 26 September 2015
Appassionata
PROLOG
Musik adalah bagian terpenting dari hidupku, ku tak tahu apa yang kan terjadi jika ku tak mampu memainkannya. Mungkin… hidup kan terasa hambar bak sayur tanpa garam atau mungkin… ragaku hidup tetapi jiwa dan rohku tertinggal di suatu tempat dimana musik berada.
Musik bukan diciptakan oleh orang yang berbakat saja, tetapi juga oleh orang yang dapat mendalami arti musik itu sendiri. Musik tidak dapat dilihat, dan tidak dapat disentuh tetapi musik mampu menggetarkan jiwa orang yang mendengarkannya.
Musik itu sederhana, tapi mampu melahirkan hal – hal yang luar biasa. Musik itu rumit, tapi mampu dimengerti oleh kalangan yang berfikiran sederhana.
Musik adalah sahabat dan curahan hati yang terbaik yang mampu menenangkan dan menghibur semua penikmatnya. Musik adalah hidupku, sahabatku dan curahan hatiku.
Bab I
Author POV
Seorang perempuan berjalan seorang diri dengan sebuah tas biola di tangan kanannya. Bila dilihat dari jauh perempuan itu tampak sempurna tiada cacat sedikitpun ditambah dengan kecantikan oriental khas perempuan Asia Timur yang elekat diwajahnya. Tetapi bila kita mengenalnya lebih jauh kita akan mengetahui ia adalah seorang tunawicara dan tunarungu. Sebuah senyum manis terukir indah di wajahnya menambah kesan anggun perempuan itu.
Vania POV
“Senang sekali rasanya mendapat kesempatan bermain biola lagi walau dengan kondisi tubuhku yang sekarang.” Kataku dalam hati. Pikiranku pun berkelana ke masa- masa silam dimana semua kesempurnaan masihlah milikku, sebelum kecelakaan itu merenggut indera pendengaran dan suara emasku.
FLASHBACK
“Van… Vania cepat bangun, kamu mau terlambat datang di hari pertama kita masuk SMA .” teriak Valencia, sahabat baik dan juga tetangga sebelah rumahku.
“Engghh, tunggu sebentar.” Kataku.
“Cepatlah ! Sekarang sudah jam setengah tujuh.” Balasnya.
“Iya.. iya.. aku sudah bangun kok.”
Aku pun berjalan menuruni satu per satu anak tangga di rumahku.
Sesampainya aku di bawah, aku langsung mengambil sarapan roti tawar dan susu coklat hangat yang telah disiapkan untukku. Aku pun bergegas memakai sepatuku, mengambil tasku dan berpamitan kepada kedua orang tuaku. Aku pun berangkat ke sekolah dengan menumpang mobil Valen yang juga satu sekolah denganku. Kutawari dia setangkup roti tawar yang sempat kuambilkan untuknya tadi. Ia pun mengambilnya sambil tetap memfokuskan diri menyetir mobil Honda Jazz keluaran terbaru yang diberikan orang tuanya untuk kado ulang tahunnya yang keenam belas.
Kami tiba di sekolah dua puluh lima menit sebelum bel masuk dibunyikan. Kami pun bersiap – siap berpencar mencari aula tempat OSPEK anak-anak baru diadakan. Tak lupa kami menyalakan bluetooth headset yang sudah terpasang rapi di telinga kanan kami masing – masing. Hal itu kami lakukan agar dapat saling memberitahu keadaan satu sama lain dan memberi tahu tempat OSPEK diadakan jika sudah menemukannya.
“Siap ? Jangan lupa beritahu aku bila sudah menemukan aulanya. Oke?” kataku dengan bersemangat.
“ Kau juga bila sudah menemukannya cepatlah beritahu aku.” katanya.
“Sip deh bos.” Kataku dengan mengacungkan kedua ibu jariku.
“Bye, sampai nanti.” katanya sambil berlari menjauhiku, kujawab dengan anggukan singkat dan bergegas mencari aula OSPEK.
Sekolah baruku sangatlah luas dengan 5 buah gedung yang terdiri dari sebuah gedung utama yang berisi 12 ruang kelas, sebuah gedung administrasi, gedung olahraga indoor dan outdoor, gedung musik, dan juga gedung khusus guru dan staff yang membantu berjalannya sekolah ini. Aku baru mengetahuinya setelah melihat denah sekolah yang berada di mading.
Akhirnya aku menemukan aula di mana kegiatan OSPEK diadakan, tepat di dalam gedung olahraga di lantai kedua lebih tepatnya. Aku juga sudah memberi tahu Valen tentang hal itu. Sekarang aku sedang menunggunya sembari mendengarkan musik dengan volume yang cukup keras agar terhindar dari suasana bising di sekitar tempatku berada. Entah mengapa, setiap kali ku mendengarkan musik ku merasakan ketenangan dan kenyamanan. Aku yakin aku tidak bisa hidup tanpa musik di sisiku.
Tiba- tiba Valen berlari ke arahku dengan nafas yang terengah – engah seperti orang yang usai lari marathon. Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali fokus mendengarkan musik yang sedang kudengarkan. Instrumen lagu Beethoven yang berjudul ‘Appassionata’ pun mulai memenuhi indera pendengaranku. Aku pun mulai terhanyut dan terbawa suasana yang berhasil diciptakan lagu ini. Aku meresapi setiap nada yang tertangkap oleh telingaku sambil berfikir betapa hebatnya pencipta instrumen ini karena hanya dari sebuah instrumen ia mampu menggetarkan semua jiwa yang mendengarkannya. Penuh makna… Kesedihan… Ketertolakan… Keputusasaan… Pengkhianatan… Penghinaan… Kupejamkan mataku ketika menikmati melodi indah ini, tak terasa air mataku pun mengalir.
Ku buka mataku saat kurasakan ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku, aku pun menoleh untuk melihat siapa orang yang berani mengganggu saat ketenanganku. “Valencia Armadi !!” teriakku dengan suara keras setelah mengetahui sahabatku lah yang melakukannya. Aku pun mematikan lagu yang sedang kuputar dan meletakkan ipod ku ke dalam tas selempang berwarna merah muda yang hari ini kugunakan. Kulihat Valen telah berpindah ke sampingku sambil terkekeh kecil melihat kelakuanku yang kekanak-kanakan.
“Sudah selesai berpacaran dengan musikmu itu?” tanyanya.
“ Ada hal penting apa Len?? Sampai kamu mengganggu tenangku mendengarkan musik.” tanyaku.
“ Kita sudah mau mulai OSPEK Van, jadi bergegaslah sebelum kita berdua kena hukum senior-senior kejam tak berperikemanusiaan itu.”katanya dengan berbisik di telingaku.
“Astaga, kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi?” kataku dengan panik.
“Salahmu sendiri.”katanya singkat.
“Ya sudah, ayo kita bergegas!” “Ayo!”
Kami pun berjalan memasuki aula OSPEK diadakan, tiba-tiba suasana berubah hening dan kurasakan semua mata tertuju pada kami berdua. Aku pun mencari tempat duduk yang masih kosong di bagian belakang.
-Bersambung-
Goresan Kenangan
Dentang waktu bergulir kian cepat, tanpa sadar detik berganti menit... menit berganti jam... jam berganti hari... hari berganti bulan... bulan pun berganti tahun... Waktu yang kita lalui tak terasa telah terbentang jauh.. Setiap detik yang berlalu pasti kan menggoreskan kenangan... Entah itu kenangan yang manis maupun yang pahit... Dan setiap orang membagikan kenangan itu dengan caranya tersendiri...
******
Sepi dan sunyi menjadi teman keseharianku hingga menyisakan beberapa ruang kosong di relung hati ini. Di sebuah rumah yang telah lama tak dihiraukan pemiliknya, ku duduk seorang diri menghindari hiruk-pikuk keramaian bak kota besar. Bukanlah keinginanku tuk tinggal menyendiri... tapi ku terabaikan layaknya sampah masyarakat yang akhirnya mengharuskanku berjuang sendiri menghabiskan sisa umurku. Sekarang tak banyak orang yang mengenal jati diriku yang sesungguhnya karena mereka hanya merasa kasihan terhadap diriku, si kakek tua renta.
“Minggir Pak Tua, jangan berdiri saja di situ.”, bentak seorang janda beranak satu yang tinggal di samping rumah tempat ku berteduh.
“ Maaf .”, bisikku lirih nyaris tak terdengar sembari pergi menghindar dari segala kata-kata pedas yang akan diucapkannya.
Setelah beberapa lama ku berjalan, aku pun menemukan sebuah pondok yang terlihat tua dan tidak berkepemilikan , akupun kembali duduk merenungi nasibku ini. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, warna langit pun menunjukan sudah petang. Aku pun berjalan meninggalkan pondok tua itu dan kembali melangkah, hingga akhirnya sang surya pun siap terbenam. Dan petang pun berganti menjadi malam.
Lelah, Itu yang sedang kurasakan. Karna tak kuat berjalan lagi aku pun duduk di pinggir jalan utama di sebuah desa yang cukup terkenal itu.
Sekian lama aku duduk kelelahan, selintas kulihat anak kecil dan ibunya sedang berjalan di seberang jalan yang kutempati ini. Ibu dan anaknya itu terlihat kesusahan untuk menyeberang jalan karena lalu lintas di desa ini terkenal padat.
Aku pun beranjak berdiri, menghampiri mereka.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”tanyaku menawarkan bantuan.
Ibu itu terlihat memperhatikan pakaianku yang compang-camping dan kusut ini.
“Terima kasih tawarannya,Kek. Tapi tidak usah.”, ucapnya sambil menatapku geli, mungkin karena pakaianku ini.
“Ayo nak, kita pergi”, ucap ibu itu kepada anaknya lalu berlalu meninggalkanku.
Seperti inilah kehidupanku penuh hinaan dan ejekan.Memang mengenaskan kehidupanku ini ,tapi mau bagaimana lagi? Karena sekarang sudah larut malam, aku pun memutuskan untuk tidur bersandar pada batang pohon di dekat sebuah sawah. Aku pun tertidur dengan lelap, hingga ayam berkokok dan matahari kembali menunjukan wajah cerahnya.
Aku kembali melangkahkan kakiku sambil menikmati pemandangan desa yang harus kulewati sebelum kembali ke rumah yang kugunakan sebagai tempat berteduh.Setelah waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi, akupun sampai di rumah tersebut. Lapar.. aku sangat lapar, yang kutahu sekarang aku sangat lapar.. Akan tetapi, aku tidak punya uang sepeser pun .. Jadi aku harus menahan rasa lapar ini. Aku duduk sebentar di teras rumah itu berharap ada makanan, tetapi ‘ N I H I L’.
Karena tidak ada yang harus kukerjakan dirumah tersebut, akupun siap pergi dari rumah itu. Tetapi..
“Hei Pak Tua, bisakah kau tidak kembali kerumah itu lagi?!” bentak janda itu lagi padaku dan apa yang kuberikan? Sebuah senyuman manis lalu berkata
“Maaf” jawaban itu saja yang bisa kuberikan padanya kemudian beranjak pergi dari situ. Sebelum aku pergi aku sempat mendengar dia berkata “Dasar Kakek Tua tak tahu malu , Mengapa orang sepertimu harus hidup? Tak ada gunanya sama sekali, dasar orang hina!” hinaan lagi yang kudapat, mengapa tak ada pujian??
Akupun pergi ke salah satu kota yang tak pernah tidur. Disana ada toko yang sedang tutup jadi akupun duduk di depan toko itu, dari tadi kulihat orang berlalu lalang di depanku. Hingga seorang anak kecil berumur sekitar 7 tahun menghampiriku seraya berkata..
“Uang ini untuk Kakek”ucap anak itu sambil tersenyum lalu memberikan uang kertas lembaran bertuliskan 5.000 Rupiah ,anak itu pun pergi entah kemana.
Aku ingin menangis dan terharu bersamaan.. Aku sama saja dengan pengemis yang meminta-minta belas kasihan orang lain tapi aku membutuhkannya dan anak itu baik sekali aku yakin ia anak yang berhati mulia. Tidak hanya anak itu yang memberiku uang .. Orang yang melintas didepanku pun memberikan uang, entah itu ibu-ibu,bapak-bapak,mahasiswa serta karyawan. Tepat pukul 12.00 siang aku menghitung uang yang kuperoleh totalnya ada 30.000 rupiah, dan kugunakan untuk membeli makan di sebuah warteg.
“Bu,saya ingin makan nasi dengan ikan asin ya”ucapku kepada penjual tersebut.
“Iya,tunggu kakek ini punya uang tidak?”Tanya penjual tersebut meragukanku. Akupun hanya menganggukan kepala. Penjual itupun memberikan pesananku tadi.
Setelah habis..
“Berapa semuanya?”tanyaku ingin membayar.
“10.000 rupiah “ucapnya lagi, lalu akupun membayarnya dan langsung pergi.
Dari tadi aku merasa dilihat orang-orang yang kulewati..Aku jadi tidak nyaman dan tidak memperhatikan jalan, hingga tersesat. Tak terasa petang telah menyambutku, beruntung aku menemukan rumah tempatku berteduh itu sebelum malam.
Dan lagi-lagi aku tertidur lelap tanpa mimpi.
Seperti biasa ayam jantan berkokok membangunkanku dari alam bawah sadarku. Aku pun memulai hari dengan berjalan tak tentu arah seperti anak ayam yang kehilangan induknya, dan kebimbangan senantiasa menggelayuti hatiku. Pikiranku pun melayang ke masa-masa silam di mana kejayaan masih berpihak kepadaku. Aku ingin sekali semua itu tetap bertahan hingga sekarang.
Akhir tahun 1924
-Bersambung-
Ketika Cinta Sejati Tak Kunjung Datang
Bisikan kata-kata cinta nan indah mengalun di telinga, membekas di ingatan hingga menahun seolah ada harapan yang besar di dalam artinya. Terduduk sendiri, menatap kesunyian yang enggan beranjak setelah setia menemani selama beberapa tahun terakhir. Ramai tapi hati ini sepi seolah mati, tersenyum walau tangisan mengalir deras. Menutupi keadaan sebenarnya dengan kepalsuan, kepura-puraan. Terkadang aku lelah. Lelah menjalani semua kisah hidup yang tak berjalan sesuai keinginanku. Takdir tak pernah berpihak kepadaku, entah sampai kapan aku mampu bertahan dalam keadaan ini.
Matahari kian meninggi mencapai puncak kepala, namun ku masih saja duduk termenung. Menatap hampa sebuah jendela putih di sampingku, pikiranku pun berkelana. ‘Devin’ sebuah nama yang pernah menemaniku menjalani kehidupan, menghiburku dengan canda tawa, menemani keseharianku. Namun semua itu hanyalah kenangan. Ya, kenangan yang pantas untuk dikenang. Aku tak tahu apa kesalahanku sehingga tak dapat menikmati kebahagiaan lebih lama lagi. Saat ku melayang dalam kebahagiaan, saat itu pula aku dijatuhkan ke dalam jurang yang paling dalam dan berbatu. Kurasakan hatiku tergores luka yang sangat perih, memberi bekas sebuah kenangan buruk yang membuatku mengalami trauma berkepanjangan.
Aku bukanlah seorang wanita yang kuat, mandiri dan selalu bahagia seperti yang selama ini orang pikirkan. Jangan pernah menyimpulkan sesuatu dari yang kita lihat, karena belum tentu itu adalah sebuah kebenaran. Aku hanya seorang wanita biasa yang rapuh, lemah, membutuhkan bantuan orang lain, aku juga berusaha untuk bahagia dengan caraku sendiri. Banyak sekali imajinasi tentang rencana-rencana mendatang untuk kehidupanku. Tapi diriku lupa akan suatu hal bahwa manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan semuanya.
Rinai hujan membasahi bumi, disertai bunyi guntur yang bersahut-sahutan, membangunkanku dari mimpi indahku tentang dirinya yang belum dapat kulupakan. Sejenak ku merenggangkan badan, mengumpulkan nyawa sepenuhnya, lalu menatap ke arah jam dinding antik berwarna coklat yang menghiasi dinding putih di sebelah kanan. ‘Pukul sembilan lewat dua puluh menit’, tatapanku pun mengarah keluar jendela memastikan. Langit mendung biru kehitaman dengan rinai hujan menyambut indera penglihatanku.
“Sudah malam ternyata, tak terasa waktu berjalan dengan cepat.” Kataku dalam hati.
Ku ambil sebuah payung bermotif bunga berwarna putih kekuningan yang sudah sedikit berkarat akibat hujan dengan kadar keasaman tinggi yang sering turun akhir-akhir ini. Dengan langkah pasti, ku berjalan keluar rumah kontrakan yang telah kutempati selama tiga tahun belakangan, rumah yang penuh kenangan bersamanya. Kuberjalan dengan payung di tangan kananku menghampiri sebuah supermarket kecil tapi serba ada dan buka 24 jam di dekat rumah kontrakanku. Nyala lampu yang masih terang benderang meyakinkanku bahwa masih ada kehidupan di dalam sana. Sedikit berlari karena rasa dingin mulai menyergap raga, membuat gigiku bergemeletuk pelan tanda diriku menggigil kedinginan.
Sesampainya ku di dalam supermarket ini, kulirik sebuah jam yang bertengger manis di kasir. ‘Pukul sembilan lewat dua puluh lima menit’, tak kusia-siakan waktu yang terus berjalan. Menyusuri rak-rak kebutuhan pokok dengan perlahan, mencari kebutuhan yang kuperlukan. Setelah ku dapatkan apa yang diperlukan, ku bergegas menuju kasir membayar semua belanjaanku. Seorang wanita muda berusia kepala dua menyambutku dengan ramah, ia mengeluarkan belanjaanku dari keranjang belanja dan mulai menghitungnya. Ku rogoh saku celanaku, ku keluarkan dua lembar uang seratus ribuan yang masih rapi tak bercela. Ketika wanita kasir itu menyebutkan nominal harga belanjaanku, kuberikan uang yang telah kupersiapkan sebelumnya. Ia memberikanku tiga lembar uang dua puluh ribuan sebagai kembaliannya, tak lupa diucapkannya terima kasih dan sebuah harapan agar ku kembali kesana.
Aku pun membawa belanjaan dan payungku ketika sebelumnya sudah ku pastikan bahwa hujan telah usai karena telingaku tak lagi mendengar seruan guntur maupun rintik hujan. Bau tanah khas hujan menyeruak penciumanku, banyak genangan air yang harus kuhindari sebelum ku mencapai pintu rumah kontrakanku. Setelah tiba di depan rumah kontrakan langsung kubuka pintu, lalu kuletakkan belanjaanku di tempat yang seharusnya agar mudah untukku menemukannya. Kurebahkan tubuhku di sebuah sofa di ruang tamu. Tak terasa kantuk pun mulai menyergapku, membawaku menemuinya di dalam mimpiku. Kenangan – kenangan manis saat aku dan dia masih bersama kembali merasuk ke dalam pikiranku. Masih ada kata kita pada saat itu, berbeda dengan keadaan sekarang ini. Aku tak tahu apakah itu adalah mimpi buruk atau memang sebuah pertanda. Jujur, aku tak mau berharap banyak. Aku yakin aku tak akan mampu bila harus mengalami sakitnya ditinggalkan, sakitnya dikhianati, sakitnya dibohongi oleh semua kepura-puraan yang tampak nyata untukku. Hati ini punya batas kemampuan yang tidak banyak, walau cukup untuk menampung luka yang telah dia timbulkan untukku. Mimpiku pada malam itu pun berakhir dengan indah tetapi tak seindah kenyataan yang ada dihadapanku. Mungkin Tuhan sedang memberikanku ujian agar kelak diriku lebih kuat dalam menghadapi rintangan hidup yang semakin berat.
Aku pun terhempas ke dalam pusaran hitam yang gelap. Terombang – ambing di dalam pusaran itu. Aku berteriak sekencang – kencangnya, namun tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Kucoba untuk lebih memendam rasa takut ini dan berhasil. Aku terbangun dari tidur lelapku. Mengerjap-ngerjapkan mataku, menyesuaikan pandanganku dengan sinar mentari pagi yang menelusup masuk melalui celah-celah jendela kamar. Perlahan kusibakkan tirai merah muda yang menutupi jendela, membiarkan sinar mentari masuk tanpa perlu dihalang-halangi. Hangat. Itulah yang kurasakan. Aku berharap hari ini dapat kujalani dengan perasaan yang hangat seperti sinar mentari itu, yang mampu menghangatkan dunia, memberi sebuah kenyamanan yang tak dapat dibeli oleh uang. Sudah terlalu lelah untuk disakiti lagi. Tak mampu aku berdiri, menopang tubuhku sendiri kalau hati rapuh ini kembali disakiti, karena luka yang ditimbulkannya masih belum sirna. Luka yang diberikannya terlalu sempurna sehingga susah untuk kuhilangkan. Sama seperti sebuah hiasan yang terbuat dari kaca apabila dibanting ke lantai akan pecah dan tidak dapat dikembalikan lagi seperti semula, itulah yang terjadi pada hatiku ini.
Hari baru kujalani dengan semangat baru. Mencoba memasang wajah baik-baik saja untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya. Terlalu lelah, itu yang kurasakan. Namun, aku tak bisa menyerah begitu saja. Walau ia telah menyakitiku, aku harus bisa bangkit dari keterpurukkan ini. Tak bisa aku hanya berpangku tangan dan berharap luka di hatiku dapat sirna begitu saja. Aku harus berusaha untuk menghapus namanya dari hatiku. Sungguh amat disayangkan. Berat sekali rasanya menghapus nama seseorang yang telah bertahun-tahun mendiami hatimu. Aku tipikal perempuan yang setia, memang tak mudah bagiku untuk jatuh cinta dan sekalinya aku jatuh cinta pasti amat sulit untuk berpindah ke lain hati. Boleh orang lain mencemoohku karena ku terlalu nyaman di dalam kesakitan ini. Karena memang aku sudah jatuh terlalu dalam dan tak dapat ku bangkit dengan sendirinya, aku membutuhkan teman untukku berpindah ke lain hati, teman berjuang bersama-sama.
Rabu, 09 September 2015
Jati Diri
Terkadang ku merasa tersesat dalam dunia...
Terkadang ku merasa tersingkir dari peradaban yang kian maju...
Terkadang ku merasa tak ada apa apanya dibanding yang lain...
Ketika ku melihat berkeliling...
Mataku menatap sekeliling...
Aku pun merasa rendah diri...
Merasa tak lebih dari seseorang yang kecil dan tak berarti...
Namun aku sadar akan sesuatu...
Aku bukanlah dia...
Aku bukanlah kamu...
Aku bukanlah mereka...
Aku adalah aku...
Seseorang perempuan yang sedang mencari jati diri yang sesungguhnya...
Seorang remaja yang beranjak dewasa...
Seorang kepompong yang ingin bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu...
God Bless~
Cintailah Aku
Kau yang di sana...
Jangan kau lupakan diriku di sini...
Diriku yang tak berarti ini...
Diriku yang terlalu jauh dari kata sempurna...
Cintailah aku...
Cintailah aku sebagaimana aku adanya...
Cintailah aku bukan karena siapa diriku...
Cintailah aku bukan karena siapa orangtuaku...
Cintailah aku tanpa melihat kekayaan...
Cintailah aku tanpa melihat siapa diriku sekarang...
Cinfailah aku bukan karena aku yang berusaha tuk sempurna...
Cintailah aku bukan karena alasan apapun yang dapat kau jabarkan...
Cintailah aku dengan tulus dan tanpa memandang siapakah aku ini...
Karena...
Harta dapat musnah...
Fisik dapat menua...
Kekayaan dan kejayaan dapat runtuh dalam sekejab...
Terimalah dan cintailah aku sebagaimana aku apa adanya... ^^