Dentang waktu bergulir kian cepat, tanpa sadar detik berganti menit... menit berganti jam... jam berganti hari... hari berganti bulan... bulan pun berganti tahun... Waktu yang kita lalui tak terasa telah terbentang jauh.. Setiap detik yang berlalu pasti kan menggoreskan kenangan... Entah itu kenangan yang manis maupun yang pahit... Dan setiap orang membagikan kenangan itu dengan caranya tersendiri...
******
Sepi dan sunyi menjadi teman keseharianku hingga menyisakan beberapa ruang kosong di relung hati ini. Di sebuah rumah yang telah lama tak dihiraukan pemiliknya, ku duduk seorang diri menghindari hiruk-pikuk keramaian bak kota besar. Bukanlah keinginanku tuk tinggal menyendiri... tapi ku terabaikan layaknya sampah masyarakat yang akhirnya mengharuskanku berjuang sendiri menghabiskan sisa umurku. Sekarang tak banyak orang yang mengenal jati diriku yang sesungguhnya karena mereka hanya merasa kasihan terhadap diriku, si kakek tua renta.
“Minggir Pak Tua, jangan berdiri saja di situ.”, bentak seorang janda beranak satu yang tinggal di samping rumah tempat ku berteduh.
“ Maaf .”, bisikku lirih nyaris tak terdengar sembari pergi menghindar dari segala kata-kata pedas yang akan diucapkannya.
Setelah beberapa lama ku berjalan, aku pun menemukan sebuah pondok yang terlihat tua dan tidak berkepemilikan , akupun kembali duduk merenungi nasibku ini. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, warna langit pun menunjukan sudah petang. Aku pun berjalan meninggalkan pondok tua itu dan kembali melangkah, hingga akhirnya sang surya pun siap terbenam. Dan petang pun berganti menjadi malam.
Lelah, Itu yang sedang kurasakan. Karna tak kuat berjalan lagi aku pun duduk di pinggir jalan utama di sebuah desa yang cukup terkenal itu.
Sekian lama aku duduk kelelahan, selintas kulihat anak kecil dan ibunya sedang berjalan di seberang jalan yang kutempati ini. Ibu dan anaknya itu terlihat kesusahan untuk menyeberang jalan karena lalu lintas di desa ini terkenal padat.
Aku pun beranjak berdiri, menghampiri mereka.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”tanyaku menawarkan bantuan.
Ibu itu terlihat memperhatikan pakaianku yang compang-camping dan kusut ini.
“Terima kasih tawarannya,Kek. Tapi tidak usah.”, ucapnya sambil menatapku geli, mungkin karena pakaianku ini.
“Ayo nak, kita pergi”, ucap ibu itu kepada anaknya lalu berlalu meninggalkanku.
Seperti inilah kehidupanku penuh hinaan dan ejekan.Memang mengenaskan kehidupanku ini ,tapi mau bagaimana lagi? Karena sekarang sudah larut malam, aku pun memutuskan untuk tidur bersandar pada batang pohon di dekat sebuah sawah. Aku pun tertidur dengan lelap, hingga ayam berkokok dan matahari kembali menunjukan wajah cerahnya.
Aku kembali melangkahkan kakiku sambil menikmati pemandangan desa yang harus kulewati sebelum kembali ke rumah yang kugunakan sebagai tempat berteduh.Setelah waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi, akupun sampai di rumah tersebut. Lapar.. aku sangat lapar, yang kutahu sekarang aku sangat lapar.. Akan tetapi, aku tidak punya uang sepeser pun .. Jadi aku harus menahan rasa lapar ini. Aku duduk sebentar di teras rumah itu berharap ada makanan, tetapi ‘ N I H I L’.
Karena tidak ada yang harus kukerjakan dirumah tersebut, akupun siap pergi dari rumah itu. Tetapi..
“Hei Pak Tua, bisakah kau tidak kembali kerumah itu lagi?!” bentak janda itu lagi padaku dan apa yang kuberikan? Sebuah senyuman manis lalu berkata
“Maaf” jawaban itu saja yang bisa kuberikan padanya kemudian beranjak pergi dari situ. Sebelum aku pergi aku sempat mendengar dia berkata “Dasar Kakek Tua tak tahu malu , Mengapa orang sepertimu harus hidup? Tak ada gunanya sama sekali, dasar orang hina!” hinaan lagi yang kudapat, mengapa tak ada pujian??
Akupun pergi ke salah satu kota yang tak pernah tidur. Disana ada toko yang sedang tutup jadi akupun duduk di depan toko itu, dari tadi kulihat orang berlalu lalang di depanku. Hingga seorang anak kecil berumur sekitar 7 tahun menghampiriku seraya berkata..
“Uang ini untuk Kakek”ucap anak itu sambil tersenyum lalu memberikan uang kertas lembaran bertuliskan 5.000 Rupiah ,anak itu pun pergi entah kemana.
Aku ingin menangis dan terharu bersamaan.. Aku sama saja dengan pengemis yang meminta-minta belas kasihan orang lain tapi aku membutuhkannya dan anak itu baik sekali aku yakin ia anak yang berhati mulia. Tidak hanya anak itu yang memberiku uang .. Orang yang melintas didepanku pun memberikan uang, entah itu ibu-ibu,bapak-bapak,mahasiswa serta karyawan. Tepat pukul 12.00 siang aku menghitung uang yang kuperoleh totalnya ada 30.000 rupiah, dan kugunakan untuk membeli makan di sebuah warteg.
“Bu,saya ingin makan nasi dengan ikan asin ya”ucapku kepada penjual tersebut.
“Iya,tunggu kakek ini punya uang tidak?”Tanya penjual tersebut meragukanku. Akupun hanya menganggukan kepala. Penjual itupun memberikan pesananku tadi.
Setelah habis..
“Berapa semuanya?”tanyaku ingin membayar.
“10.000 rupiah “ucapnya lagi, lalu akupun membayarnya dan langsung pergi.
Dari tadi aku merasa dilihat orang-orang yang kulewati..Aku jadi tidak nyaman dan tidak memperhatikan jalan, hingga tersesat. Tak terasa petang telah menyambutku, beruntung aku menemukan rumah tempatku berteduh itu sebelum malam.
Dan lagi-lagi aku tertidur lelap tanpa mimpi.
Seperti biasa ayam jantan berkokok membangunkanku dari alam bawah sadarku. Aku pun memulai hari dengan berjalan tak tentu arah seperti anak ayam yang kehilangan induknya, dan kebimbangan senantiasa menggelayuti hatiku. Pikiranku pun melayang ke masa-masa silam di mana kejayaan masih berpihak kepadaku. Aku ingin sekali semua itu tetap bertahan hingga sekarang.
Akhir tahun 1924
-Bersambung-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar